News  

Kasus Campak DKI Terbanyak di Jakarta Utara

Kasus Campak DKI Terbanyak di Jakarta Utara

JawaPos.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta mencatat bahwa kasus campak di Ibu Kota paling banyak ditemukan di Jakarta Utara dengan 155 kasus. Sementara itu kasus lainnya di Jakarta Timur adalah 40 kasus. Secara keseluruhan, jumlah kasus hingga akhir tahun 2022 di DKI Jakarta mencapai 253 kasus.

“Di Jakarta Timur mayoritas di Kecamatan Makasar. Sedangkan di Jakarta Utara di Cilincing dan Koja,” ujar Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinkes DKI Jakarta Ngabila Salama kepada wartawan, Rabu (25/1).

Penyebaran yang lumayan tinggi di daerah-daerah tersebut, menurut Ngabila adalah bisa jadi karena anak-anak yang sering main dan jajan bersama di ruang terbuka. “Jadi karena dia air-bone, kulitnya ketemu langsung, sedangkan di Kelapa Gading nyaris nggak ada karena mungkin daerahnya lebih private dan sebagainya,” ungkapnya.

Sementara itu, berdasarkan lingkup kecamatan, ada 5 kecamatan dengan kondisi kasus campak yang meningkat cukup dominan dibandingkan dengan jumlah penduduk di wilayah tersebut. “Pertama Cilincing, kedua Koja, ketiga Makasar, Jakarta Timur. Lalu di Jakarta Pusat ada Tanah Abang. Di Jakarta Selatan ada Setia Budi,” pungkas Ngabila.

Sebelumnya, Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengimbau agar warga segera melakukan vaksin Measles Mumps Rubella (MMR) untuk mengindari campak. Pasalnya, virus yang telah menyambangi 95 persen balita dan anak SD itu jauh lebih menular dari Covid-19.

“Jauh Iebih menular dengan sangat cepat, melalui udara/airborne dan droplet lewat permukaan benda, juga bisa kontak langsung kulit,” ujar Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinkes DKI Jakarta Ngabila Salama kepada wartawan, Senin (23/1).

Gejala yang akan dirasakan orang yang terkena campak ini berupa deman tinggi karena virus, batuk, pilek, mata merah, dan setelah empat hari pasca-demam akan muncul ruam merah.

“Penularan berlangsung lama 4 hari sebelum dan 4 hari sesudah muncul bercak merah,” jelas Ngabila.

Untuk mengatasi hal itu, ia meminta agar warga mengkonsumsi obat pereda gejala dan vitamin A untuk mencegah kebutaan. Cegah sakit dengan imunisasi lengkap campak rubella tiga kali, yaitu ketika usia 9 bulan, 18 bulan, dan kelas 1 SD.

“Cegah komplikasi dan meninggal dengan deteksi dini dan tata laksana dokter. Cegah sakit kayak mencegah covid juga tentunya, disiplin bermasker, jauh-jauh dari orang yang lagi sakit,” pungkas Ngabila.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Tazkia Royyan Hikmatiar


Artikel ini bersumber dari www.jawapos.com.

error: Content is protected !!