News

Pahami Sejak Dini Ciri-ciri Anak Autis dari Wajahnya

PORTAL-RAKYAT – Autis atau autism spectrum disorder (ASD) merupakan gangguan yang menyerang perkembangan saraf, Bunda. Gangguan ini dapat memengaruhi seseorang dalam berkomunikasi dan berhubungan secara emosional dengan orang lain.

Autisme bisa berkembang pada berbagai usia. Beberapa bayi mungkin menunjukkan tanda-tanda awal autisme. Tanda dan gejala peringatan dini autisme dapat dikenali.

Mengutip MedicineNet, ciri-ciri autisme biasanya muncul antara usia bayi 12-18 bulan, atau bahkan bisa terdeteksi lebih awal. Akan tetapi, beberapa anak mungkin baru dapat terdiagnosa autis saat ia sudah memasuki usia 3 tahun. Hal tersebut karena tanda autis pada anak terkadang sulit untuk dikenali sejak dini.

Ciri-ciri anak autis

Ciri-ciri autis pada anak dapat dilihat dari ketidakmampuannya untuk fokus pada sesuatu, Bunda. Selain itu, anak autis juga tidak responsif, kurang memahami isyarat sosial, melakukan gerakan berulang atau terbatas, hingga berperilaku melecehkan diri sendiri seperti membenturkan kepala dan menyakiti tubuhnya.

“Tingkat keparahan gejala sangat bervariasi di antara individu yang terkena,” kata ahli patologi anatomi bersertifikat, Melissa Conrad Stoppler.

Ciri lain yang mungkin dimiliki anak autis ialah kelambatan mencapai kemampuan untuk berbicara, kurang memiliki rasa empati terhadap apapun, menarik diri dari pergaulan di sekitar, serta kerap menghindari kontak mata, Bunda.

“Pada bayi gejalanya bisa bervariasi, tetapi dapat berupa kurangnya atau menurunnya kemampuan untuk kontak mata dengan orang lain,” ujar Stoppler.

Ciri lainnya yang bisa diamati dari anak yang mengidap autis adalah wajahnya, Bunda. Studi terbaru yang mengamati karakteristik wajah anak-anak menemukan bahwa anak autis memiliki perbedaan karakteristik wajah dibanding dengan anak tanpa autis.

Mengutip CBS News, studi yang diterbitkan dalam Molecular Autism, peneliti membandingkan fitur wajah pada 64 anak laki-laki penderita autis dengan wajah 41 anak laki-laki tanpa autis, menggunakan sistem kamera 3D. Setelah memetakan 17 titik pada wajah, para peneliti menemukan perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok.

Studi tersebut menemukan anak-anak autis memiliki mata dan wajah bagian atas yang lebih lebar dibanding dengan anak tanpa autis. Menurut penelitian, anak-anak autis juga memiliki bagian tengah wajah yang lebih pendek, termasuk hidung dan pipi serta mulut dan filtrum yang lebih lebar, divot atau lekuk kecil di tengah bibir atas dan di bawah hidung.

Studi ini juga menemukan anak-anak dengan ciri autis parah seperti masalah perilaku, kesulitan bahasa, dan perilaku berulang memiliki karakteristik wajah yang berbeda dari anak-anak dengan autis ringan.

Penulis studi sekaligus asisten profesor anatomi di Fakultas Kedokteran Universitas Missouri, Dr. Kristina Aldridge mengatakan, dengan mencari tahu kapan perubahan wajah itu terjadi akan memungkinkan para peneliti fokus menemukan penyebab yang mendasari gangguan tersebut, apakah genetika atau pengaruh lingkungan.

“Mengetahui waktu perubahan ini dapat mengarahkan kita untuk mengidentifikasi penyebab genetik, memberitahu kapan embrio mungkin rentan terhadap faktor lingkungan atau keduanya,” ucapnya.

Perawatan autis

Meski tidak ada pengobatan untuk autisme, ada perawatan yang bisa dilakukan untuk beberapa gejala autisme. Bunda dan dokter harus mendiskusikan terapi medis sebelum dilakukan demi memastikan memanfaatnya lebih besar dibanding dengan resikonya.

Beberapa perawatan yang bisa dilakukan untuk anak autis, di antaranya:

  1. Obat-obatan

Agen medis yang biasa digunakan adalah antipsikotik seperti risperidone atau aripiprazole. Obat-obatan seperti methylphenidate, fluoxetine, obat anti kejang, dan lainnya dapat membantu gejala tertentu. Pengamatan yang cermat dibutuhkan untuk memantau respons anak terhadap obat.

  1. Integrasi sensori

Terapi integrasi sensori bisa dilatih untuk anak dengan autis. Sekadar diketahui anak-anak dengan gangguan ini mungkin sangat sensitif terhadap sejumlah rangsangan sensorik seperti suara, cahaya, tekstur, rasa, dan bau. Beberapa anak mungkin menjadi gelisah dengan menyentuh, mendengar, atau melihat sesuatu seperti bel, lampu berkedip, menyentuh sesuatu yang dingin, mencicipi makanan tertentu atau mencium bau tertentu.

Terapi integrasi sensori membantu anak dengan autis untuk beradaptasi dengan kondisinya. Terapi ini menilai cara otak seseorang memproses input sensorik. terapis okupasi atau fisik terlatih dengan integrasi sensorik akan mengevaluasi anak autis untuk membuat rencana yang sesuai stimulasi sensorik dengan gerakan fisik, yang bisa meningkatkan cara otak memproses dan mengatur informasi sensorik.

  1. Teknologi asistif

Teknologi telah memberikan beberapa anak autis berat cara untuk berkomunikasi. Teknologi pendukung adalah produk, barang, atau peralatan yang digunakan oleh penyandang disabilitas untuk melakukan tugas, meningkatkan kemampuan fungsional, dan menjadi lebih mandiri.

Teknologi asistif bisa berupa tablet komputer, komputer, atau aplikasi telepon dengan program yang dirancang khusus untuk melibatkan anak autis. Untuk anak dengan kesulitan komunikasi parah, perangkat dengan aplikasi penghasil ucapan atau perangkat penghasil ucapan mungkin sangat efektif.

  1. Diet

Dokter menyarankan anak-anak dengan gangguan autisme untuk melakukan diet seimbang dan beberapa suplemen vitamin. Penting memiliki pola makan yang baik karena beberapa pasien autis menunjukkan perbaikan gejala autis.

Meski sedikit penelitian telah dilakukan, diet bebas gluten atau kasein adalah pengobatan alternatif untuk anak-anak autis. Diet ini menghilangkan semua makanan yang mengandung gluten (gandum, barley, dan gandum hitam), serta kasein (ditemukan dalam susu, dan produk susu).

Anak autis mungkin memiliki alergi atau kepekaan tinggi terhadap makanan yang mengandung gluten atau kasein. Adapun manfaat diet ini, di antaranya meningkatkan penggunaan bahasa, interaksi sosial lebih baik, mengurangi stimulasi diri dan perilaku yang merugikan diri sendiri, meningkatkan kemampuan untuk fokus, kekebalan dan tidur lebih baik, dan meningkatkan kesadaran.

  1. Terapi alternatif

Karena tidak ada pengobatan untuk mengobati autisme, sebagian orang tua mencoba pengobatan komplementer dan alternatif untuk anak autis. Namun penelitian untuk keamanan dan manfaat dari pendekatan ini belum dipelajari.

Anak-anak autis mungkin mendadak dipicu perubahan jadwal, kebisingan, atau lainnya yang mengganggunya. Teknik relaksasi seperti pijat dengan tekanan bisa meredakan kegelisahan pada anak autis. Namun perlu diingat, apapun perawatan yang dilakukan, sebaiknya Bunda mendiskusikannya dengan dokter atau tim medis karena beberapa perawatan bisa berbahaya bagi anak.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERPOPULER

To Top