News  

Band Silampukau, Betah karena Bahasa dan Efisiensi Lagu Kontras

Band Silampukau, Betah karena Bahasa dan Efisiensi Lagu Kontras

Dari kreativitas mereka, bahasa Indonesia lebih dari sekadar sarana berkomunikasi. Tetap lestari di tengah gempuran berbagai hal yang berbalut ”modern”. Inilah sebagian di antara mereka, para perawat bahasa.

Gelanggang ganas 5:15, di Ahmad Yani yang beringas

Sinar kuning merkuri, pendar celaka akhir hari

Malam jatuh di Surabaya

PENGGALAN lirik single berjudul Malam Jatuh di Surabaya itu sempat begitu asing di telinga pendengar musik.

Pemakaian kata-kata yang tak jamak untuk menggambarkan keruwetan jalanan Surabaya di sore hari. Namun, diksi yang disebut sangat sastrawi itu justru menjadi andalan bagi si empunya lagu, Silampukau.

Tidak sekadar berbahasa Indonesia, karya-karya band asal Surabaya tersebut sangat sastrawi. Menyimpan makna yang dalam pada tiap penggalan liriknya. Hampir di tiap lagu yang dihasilkan Silampukau, entah sejak EP pertama, full album, atau beberapa single, band yang digawangi duo Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening itu begitu konsisten memakai kata berbahasa Indonesia yang nyastra.

Banyak yang menduga, Silampukau konsisten merangkai kata-kata seperti itu karena latar belakang personelnya. Kebetulan, Kharis yang menjadi pencipta lagu terbanyak di Silampukau merupakan jebolan Sastra Indonesia Universitas Airlangga. Tapi, Kharis sendiri menampiknya.

Jurusan perkuliahan memang sedikit memengaruhi ciri khas sastrawi tiap karya Silampukau. Namun, ungkap Kharis, Silampukau bereksperimen memakai kata-kata tersebut karena masih berpegang pada mazhab kuno dalam berkesenian. ”Di mana yang mengatakan bahwa seni adalah usaha untuk menciptakan keteraturan dalam sebuah chaos,” ujarnya.

Selain itu, ada dua sastrawan yang berpengaruh besar dalam hidup Kharis ataupun Eki, yakni Pramoedya Ananta Toer dan Goenawan Mohamad (GM). Pramoedya adalah begawan realisme, sedangkan GM berideologi romantis kronis. ”Dua ideologi dan estetika yang demikian bertolak belakang itu ternyata justru menarik ketika digabungkan,” lanjut Kharis.

Dia dan Eki enggan disebut ”pahlawan bahasa” karena konsisten menggunakan bahasa Indonesia dengan diksi yang rapi dalam setiap karyanya. ”Itu merupakan sebuah kehormatan yang rasanya belum pantas kami dapatkan,” katanya.

Eki menambahkan, tidak mudah sebenarnya bermusik dengan pilihan bahasa seperti yang dilakoni Silampukau saat ini. Apalagi, penentuan makna bahasa Indonesia sangat bergantung pada afiksasi. Atau istilahnya tambahan dalam kata yang erat kaitannya dengan pembentukan makna.

Dengan ketergantungan itu, kata-kata yang dipakai dalam sebuah lagu berbahasa Indonesia cenderung panjang dan melelahkan. Apalagi ketika kata-kata tersebut digunakan untuk menyampaikan sebuah ide atau paparan akurat tentang sebuah situasi. ”Sedangkan sebuah lagu, bahkan genre rap sekalipun, selalu membutuhkan semacam efisiensi dalam penyampaian agar harmonis dengan tema dan kalimat musikalnya,” terang Eki.

Namun, justru itulah yang kemudian membuat Silampukau ”betah”. Kekontrasan antara bahasa dan efisiensi lagu jadi sebuah hal yang menarik untuk terus dikulik. ”Menciptakan situasi yang pelik, tapi ternyata sangat asyik untuk dipecahkan,” ucapnya.

Eki juga menjelaskan, dengan lirik berbahasa Indonesia, tidak serta-merta makna yang ingin diungkapkan bisa tersampaikan dengan baik kepada pendengar. Lirik-lirik dari Silampukau bukan tentang akurasi pemaknaan dari kata-kata berbahasa Indonesia. ”Sebab, makna dari sebuah kata senantiasa cenderung mengkhianati penuturnya, dalam bahasa apa pun diucapkan. Ini perkara kami menantang diri sendiri saja,” paparnya.

Nah, hal itu tecermin dalam salah satu single Dendang Sangsi. Bercerita tentang runyamnya keadaan dunia selama pandemi Covid-19 pada 2020. Kharis dan Eki mencoba menggambarkan ”chaos”-nya dunia saat itu melalui alunan musik dangdut yang berjoget. Dangdut diharapkan bisa mereduksi lirik-lirik keputusasaan dan kemarahan dalam single tersebut.

Dari dubur kekuasaan, menghancurkan kewarasan

Berdengung mengacau ingatan

Penggalan lirik sentimental yang bisa dijogetkan melalui alunan gendang dan irama dangdut ala Silampukau. ”Seluruh permasalahan pelik kehidupan, seluruh problem yang mustahil dipecahkan sekalipun, bisa tertanggungkan sementara kita berjoget,” ungkap Kharis.

Ini salah satu cara bagaimana Silampukau menantang diri sendiri soal pemaknaan. Soal bagaimana pemaknaan selalu mengkhianati penuturnya. ”Karena dangdut adalah salah satu cara bertahan hidup bagi banyak dari kita,” lanjutnya.

Single lain berjudul Lantun Mustahil juga mencoba menceritakan soal pandemi melalui sisi yang berbeda. Melalui tema kemaritiman. Tema yang dianggap Silampukau seperti disingkirkan oleh masyarakat Indonesia yang justru sebagian wilayahnya adalah lautan. ”Laut menjadi semacam halaman belakang yang terlupakan di lagu-lagu Indonesia,” tandasnya.


Artikel ini bersumber dari www.jawapos.com.