Tubuh Karyawan Hancur Tertarik Mesin, Sikap Paris Baguette Dikecam Warga Korsel

Tubuh Karyawan Hancur Tertarik Mesin, Sikap Paris Baguette Dikecam Warga Korsel

portal-rakyat.com – Jaringan bakery Paris Baguette di Korea Selatan mendapat kecaman dari konsumen setelah tragedi yang menimpa salah satu karyawannya.

Seorang wanita muda yang bekerja di salah satu toko tersebut meninggal dunia dalam kondisi hancur di tempat kerjanya.

Kejadian bermula saat karyawan berusia 23 tahun itu mengoperasikan mesin pencampur saus sendirian pada 14 Oktober 2022 lalu di salah satu pabrik perusahaan.

Selama sifnya, dia tertarik ke dalam alat dan tubuhnya yang hancur ditemukan di mesin keesokan harinya oleh rekan-rekannya.

Pabrik melanjutkan produksi keesokan harinya, begitu juga dengan karyawan yang melihat dan menarik tubuh rekan kerja mereka yang hancur keluar dari mesin, diharuskan bekerja di sebelah lokasi kecelakaan.

Para kritikus mengatakan bahwa mesin tersebut seharusnya dioperasikan oleh dua orang, tetapi korban hanya sendirian saat itu.

Tanggapan yang tidak berperasaan dan dugaan penyimpangan keselamatan dari perusahaan pun memicu protes dan boikot di Korea Selatan terhadap Paris Baguette dan perusahaan induknya, SPC Group.

“Jangan pernah membeli atau pergi ke Perusahaan SPC yang membunuh!,” kata Konfederasi Serikat Pekerja Korea, dikutip Pikiran-Rakyat.com dari VICE, Jumat, 28 Oktober 2022.

Setelah itu, tagar dengan frasa seperti “boikot SPC”, “perusahaan pembunuh SPC”, dan “Gerakan tanpa beli” menjadi trending di Twitter Korea Selatan .

Sehari setelah Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol memerintahkan penyelidikan atas kematian karyawan tersebut, ketua SPC Group Huh Young In baru secara terbuka meminta maaf.

Dia mengatakan bahwa meminta karyawan untuk kembali bekerja di lokasi kecelakaan itu salah dan “tidak bisa dimaafkan”.

Presiden SPC Hwang Jae-bok juga mengatakan bahwa perusahaan juga berjanji untuk menghabiskan 100 miliar won (Rp1 triliun) selama tiga tahun untuk meningkatkan keselamatan pekerja.

SPC Group, konglomerat makanan Korea Selatan yang memiliki Paris Baguette dan mengoperasikan merek global besar di negara itu, telah berulang kali mendapat kecaman karena praktik tenaga kerjanya yang buruk.

Hanya seminggu sebelum wanita yang tidak disebutkan namanya itu meninggal di tempat kerja, tangan seorang karyawan tersangkut di mesin lini produksi lain.

Akan tetapi, perusahaan itu tidak mengirim pekerja tersebut ke rumah sakit untuk perawatan karena karyawan itu bukan pekerja penuh waktu.

Pada bulan Mei, sekelompok aktivis juga memprotes SPC Group karena diduga gagal memberikan hak-hak dasar buruh kepada karyawan perempuan.

Meskipun sekitar 80 persen pembuat roti Paris Baguette adalah perempuan, para demonstran mengklaim bahwa mereka tidak dijamin istirahat makan siang satu jam, liburan berbayar tahunan, dan cuti menstruasi.

Dengan lebih dari 4.000 lokasi di seluruh dunia, Paris Baguette adalah bisnis yang berkembang pesat.

Menurut publikasi bisnis Amerika Franchise Times, waralaba Paris Baguette di AS menempati posisi nomor 25 pada peringkat 500 sistem waralaba terbesar yang berbasis di AS berdasarkan penjualan global, tepat setelah Popeyes Louisiana Kitchen dan Panera Bread.

Perusahaan berencana untuk membuka 1.000 lokasi di AS pada tahun 2030.

Pada hari kematian karyawan tersebut, SPC Group mengumumkan akan membuka Paris Baguette pertamanya di Inggris.

Di Korea Selatan , SPC Group juga mengoperasikan merek internasional seperti Shake Shack dan Baskin Robbins.***

”Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website pikiran-rakyat.com. Situs https://portal-rakyat.com adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), situs https://portal-rakyat.com tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber.”