Gaya Hidup

Penyebab & Cara Mengatasi Sawan pada Bayi Secara Medis

PORTAL-RAKYAT – Sebagian ibu akan menganggap bayi yang mengalami perubahan perilaku tiba-tiba, seperti rewel, menangis terus-menerus dan tidak biasa atau kejang karena kena sawan. Sawan sendiri kerap dikaitkan dengan hal mistis.

Berdasarkan mitos di masyarakat, anak kena sawan karena kesurupan akibat ibunya mengajak bayi ke suatu acara atau melanggar pantangan tertentu selama menyusui. Dan kebanyakan sawan pada bayi kerap terjadi pada bulan-bulan awal kelahiran.

Penyebab sawan pada bayi

Kondisi bayi yang disebut mengalami sawan, secara medis bisa disebabkan:

  1. Kolik

Bayi kolik akan menangis atau rewel dalam waktu yang lama lho, Bunda. Mengutip Family Doctor, bayi kolik menangis lebih dari 3 jam sehari minimal 3 hari dalam seminggu selama lebih dari 3 minggu.

Selain itu, jika kolik maka bayi akan menangis tanpa alasan jelas, menangis di waktu yang sama, mengepalkan tangan atau meringkuk saat menangis, menangis seperti kesakitan, dan tubuhnya memerah saat menangis. Nah saat menangis, bayi akan menelan udara sehingga membuatnya kembung. Bayi akan membaik jika bisa buang angin atau buang air besar.

Soal penyebab kolik, para peneliti melihat ada banyak kemungkinan. Beberapa faktor yang berkontribusi menyebabkan bayi kolik, yakni:

  • Nyeri atau ketidaknyamanan karena kembung atau gangguan pencernaan
  • Sistem pencernaan yang belum berkembang sempurna
  • Kurang atau kekenyangan menyusui
  • Sensitivitas terhadap ASI atau susu formula
  • Stimulasi berlebihan
  • Bentuk awal migrain pada bayi
  • Reaksi emosional terhadap ketakutan dan frustrasi
  1. Kejang demam

Bayi yang dianggap kena sawan kerap mengalami kejang demam, yang terjadi ketika anak mengalami demam hingga lebih dari 38 derajat celcius. Mengutip Kids Health, kejang biasanya berlangsung selama beberapa menit dan berhenti dengan sendirinya

Kejang ini biasanya terjadi pada anak usia 6 bulan sampai 5 tahun. Namun paling sering terjadi pada balita usia 12-18 bulan. Si kecil akan lebih mungkin mengalami kejang demam jika memiliki riwayat keluarga kejang demam.

“Hal terpenting yang harus diketahui orang tua adalah bahwa kejang demam merupakan faktor genetik. Jika orang tua atau saudara kandung anak ada yang mengidap maka risikonya 50 persen,” kata Mary Connolly, Kepala Neurologi Anak di Rumah Sakit Anak British Columbia, dikutip dari Today’s Parent.

Selain punya riwayat keluarga, bayi atau anak pernah mengalami kejang demam sebelumnya dan mengalami kejang demam pertama kali saat usia kurang dari 15 bulan. Sementara itu, ada dua jenis kejang demam, yakni:

  • Kejang demam sederhana

Kejang demam ini yang paling umum. Biasanya akan berakhir dalam beberapa menit tetapi dalam kasus yang jarang terjadi bisa bertahan hingga 15 menit. Selama mengalami kejang ini, tubuh si kecil akan kejang, bergoyang dan kedutan. Selain itu, bola matanya berputar, mengerang, pingsan, muntah atau buang air kecil selama kejang.

  • Kejang kompleks

Kejang ini bisa berlangsung lebih dari 10 menit dan terjadi lebih dari sekali dalam 24 jam, serta melibatkan gerakan atau kedutan hanya pada satu bagian atau sisi tubuh.

Adapun penyebab kondisi yang disebut sebagian orang dengan nama sawan kemungkinan terkait beberapa virus dan cara otak anak yang sedang berkembang bereaksi terhadap suhu tubuh atau demam tinggi. Peningkatan suhu yang cepat, bisa membuat si kecil menjadi kejang atau sawan.

“Kejang adalah efek samping demam yang sangat menakutkan pada beberapa anak. Ini dapat terjadi pada 2 hingga 4 persen dari semua anak di bawah usia 5 tahun,” kata dokter anak Tracy Lim, MD, dikutip dari Cleveland Clinic.

Saat anak mengalami gejala sawan, ada beberapa hal yang mesti Bunda lakukan selain bersikap tenang, di antaranya:

  1. Letakkan anak di lantai datar dengan hati-hati, dan posisikan miring untuk mencegahnya tersedak.
  2. Pastikan sekitar tubuh anak bebas dari barang apapun.
  3. Kendurkan semua pakaian di sekitar kepala dan lehernya.
  4. Bunda perlu untuk perhatikan tanda-tanda seperti adanya gangguan pernapasan seperti perubahan warna kebiruan pada wajah.
  5. Cobalah untuk mencatat berapa lama kejang atau sawan yang anak alami berlangsung. Jika berlangsung lebih dari 5 menit, atau kulit anak berubah membiru, berarti itu menjadi tanda bahwa ada hal yang lebih serius terjadi, segeralah hubungi tenaga medis untuk mendapatkan perawatan yang tepat.

Sementara itu, Bunda sebaiknya tidak melakukan beberapa hal berikut ini:

  1. Memeluk atau menahan anak dari kejangnya.
  2. Memasukkan apapun ke dalam mulut anak.
  3. Mencoba memberikan obat penurun demam.
  4. Memasukkan anak ke dalam air dingin atau hangat untuk menurunkan suhu tubuh.

Jika kejang anak sudah mereda, maka Bunda dapat menghubungi dokter dan membuat jadwal konsultasi untuk mengetahui penyebabnya kejang demamnya. Nanti dokter akan memeriksa anak dan meminta Bunda untuk menjelaskan apa saja yang terjadi pada anak.

Dalam kebanyakan kasus, tidak diperlukan perawatan lain, Bunda. Dokter mungkin akan meminta tes jika anak berusia di bawah 1 tahun dan mengalami gejala lain, seperti muntah atau pun diare.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERPOPULER

To Top