Gaya Hidup

Penyebab Bisul Pada Anak dan Cara Mengobatinya

PORTALRAKYAT – Si kecil mengalami bisul, Bunda? Jangan langsung panik. Kenali dahulu penyakit infeksi pada kulit ini. Selain dewasa, bisul juga bisa dialami anak. Pada anak, hal ini sering berhubungan dengan makanan yang bersifat allergen.

“Dimulai timbulnya gatal setelah mengonsumsi makanan (yang mengandung bahan allergen) seperti telur, ikan laut, susu sapi, dan makanan bahan pengawet. Sehingga timbul gatal di kulit, akhirnya timbul bisul,” ujar dokter spesialis anak, dr. Aditya Suryansyah Sp.A(K), dikutip dari detikcom.

Definisi bisul

Bisul dikenal juga dengan istilah furunkel. Bisul merupakan infeksi yang terbentuk di sekitar folikel rambut dan mengandung nanah. Folikel akan membengkak dan berubah menjadi bisul ketika bakteri menginfeksi folikel rambut.

Mengutip Healthline, bisul mulanya muncul seperti benjolan yang terlihat jinak pada kulit. Kurang lebih mirip seperti jerawat, Bun.

Awalnya bisul muncul sebagai benjolan merah dan lunak. Benjolan tersebut dengan cepat terisi nanah. Bisul mengandung nanah sebagai upaya dari tubuh melawan infeksi.

Namun ketika infeksi semakin memburuk, bisul bisa menjadi keras dan menyakitkan. Bahkan ukuran bisul dapat meningkat lebih dari 5 cm. Kulit di sekitar folikel rambut yang terinfeksi juga bisa memerah, bengkak, dan lunak. Selain itu, kemungkinan muncul jaringan parut. Bisul biasanya paling sering ditemukan di daerah leher dan wajah.

“Bisul ini diakibatkan karena infeksi pada folikel rambut karena bakteri paling sering kegiatan yang kontak dengan air yang tercemar seperti pada saat banjir,” ucap dokter spesialis kulit dr. Galih Manggala, Sp.KK, dikutip dari detikcom.

“Dapat tumbuh di mana saja, terutama di area berambut seperti wajah, ketiak, leher, bahu, bokong.”

Melansir dari Medical News Today, individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, remaja, dewasa muda, lebih rentan terhadap bisul ketimbang anak kecil atau lanjut usia.

Beda bisul/furunkel dengan karbunkel?

Bunda pasti juga sering mendengar istilah karbunkel. Lantas apa bedanya dengan bisul atau furunkel. Furunkel adalah infeksi yang terbentuk di sekitar folikel rambut dan mengandung nanah.

Sementara karbunkel atau bisul besar adalah kumpulan bisul yang berkembang di bawah kulit. Karbunkel memengaruhi lapisan lebih dalam dan bisa menyebabkan jaringan parut.

Gejala

Baik furunkel dan karbunkel, keduanya sama-sama menyebabkan pembengkakan di bawah kulit. Gejala lain muncul juga kemungkinan ada.

Gejala furunkel/bisul:

Furunkel/bisul berkembang dengan cepat berbentuk benjolan merah mudah atau merah. Sering kali menyakitkan. Kemudian kulit di sekitarnya berwarna merah, meradang, dan lunak.

Lesi atau jaringan abnormal tersebut sering muncul di bagian leher, payudara, wajah, bokong atau paha. Bisul muncul di bagian tubuh yang rentan terhadap keringat, gesekan, dan memiliki rambut.

Biasanya bisul dimulai pada folikel rambut. Dalam beberapa hari, benjolan tersebut berisi nanah dan semakin tumbuh. Seiring ukurannya yang membesar, rasanya akan semakin menyakitkan.

Sebetulnya bisul dapat hilang tanpa intervensi. Terkadang bisul pecah dan sembuh sendiri tanpa bekas luka dalam dua hari hingga tiga pekan.

Bisul umum dialami oleh kalangan remaja dan dewasa muda. Lebih spesifik, bisul ternyata lebih banyak dialami pria daripada perempuan. Hal ini disebabkan gaya hidup pria yang kerap tidak higienis sehingga meningkatkan risiko terkena bisul.

Gejala karbunkel:

Kabunkel lebih jarang terjadi ketimbang furunkel atau bisul. Karbunkel adalah kondisi di mana terdapat kumpulan bisul dalam satu tempat.

Ukurannya lebih besar dari hanya satu bisul, bisa mencapai 10 cm. Karbunkel juga memiliki satu atau lebih bukaan yang mengalirkan nanah ke kulit.

Penyebab umum dari karbunkel adalah bakteri yang dikenal dengan nama Staphylococcus aureus (S. aureus). Infeksi karbunkel bisa menyebabkan gejala seperti demam serta badan terasa tidak sehat, lemah, dan lelah.

Bunda perlu waspada, infeksi karbunkel dapat menyebar ke bagian tubuh lain. Tak hanya itu, karbunkel juga dapat menular ke orang lain. Itulah sebabnya keluarga yang tinggal dalam satu atap bisa mengalami karbunkel secara bersamaan.

Karbunkel kemungkinan besar muncul di tubuh bagian belakang, paha, atau bagian belakang leher. Sama seperti furunkel/bisul, karbunkel juga lebih banyak dialami pria ketimbang perempuan. Selain itu, pria lanjut usia dengan kesehatan buruk dan sistem kekebalan lemah juga berisiko terkena karbunkel.

Infeksi karbunkel cenderung lebih dalam dan lebih parah daripada yang disebabkan oleh furunkel. Akibatnya risiko jaringan parut lebih tinggi dan membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh.

Penyebab bisul

S. aureus juga dikenal sebagai bakteri Staph. Ia hidup di kulit dan biasanya terdapat pada saluran pernapasan atas, seperti di dalam hidung serta tenggorokan.

Keberadaan S. aureus pada individu sehat jarang menyebabkan penyakit karena berperan sebagai karier. Selain itu sistem kekebalan tubuh membuat bakteri ini terkendali.

Namun, terkadang bakteri tersebut memasuki kulit lewat folikel rambut, melalui luka atau goresan di kulit. Ketika kulit terinfeksi, sistem kekebalan merespons dengan mengirim sel darah putih ke daerah yang terkena untuk menghancurkan bakteri. Nah, nanah itulah akumulasi bakteri mati, sel darah putih mati, dan kulit mati.

Faktor risiko bisul

Perlu diketahui juga, Bunda, ada beberapa kondisi yang bisa menyebabkan risiko seseorang terkena furunkel/bisul meningkat:

  1. Diabetes

Kadar gula yang tinggi bisa mengurangi kemampuan sistem kekebalan tubuh merespons infeksi.

  1. Obat

Beberapa obat dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh.

  1. Kondisi kulit

Psiorasis, eksim dan jerawatan dapat meningkatkan kerentanan. Obesitas juga meningkatkan risiko terkena furunkel.

Cara mengatasi bisul

Obat alami:

  • Pertama-tama siapkan kain. Kemudian celupkan ke dalam air hangat. Kompres wajah selama 10 menit dengan kain tersebut. Lakukan hal ini beberapa kali dalam sehari agar proses penyembuhan bisul lebih cepat. Panas pada kain dapat menarik lebih banyak darah, sel darah putih ke daerah yang terkena bisul serta mendorong pelebaran pori dan pelepasan nanah.
  • Hal penting yang patut diperhatikan adalah jangan lupa mencuci tangan dengan dengan seksama setelah menyentuh bisul. Hindari juga memencet bisul dan karbunkel agar tidak terjadi peningkatan risiko penyebaran infeksi.

“Bisul sebenarnya tidak boleh dipencet karena dikhawatirkan justru terjadi penyebaran bakteri, yang dapat mengakibatkan infeksi masuk lebih dalam ke soft tissue dan otot,” ujar Galih.

Mengutip buku Ibuku, Dokterku, Bunda juga bisa memberi salep antibiotik semisal gentamycin atau ichtiol (salep hitam).

Periksakan ke dokter

Jika lesi masih terasa sakit dan berlangsung lebih dari dua pekan serta disertai demam, ada baiknya Bunda memeriksakan anak ke dokter. Kemudian bila bisul sampai lebih dari satu pekan tidak ada ‘mata bisul’ maka harus dieksisi oleh dokter.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERPOPULER

To Top