Turki Yakin Jika Konflik Ukraina-Rusia Bakal Berakhir di Meja Perundingan

Turki Yakin Jika Konflik Ukraina-Rusia Bakal Berakhir di Meja Perundingan

Menteri Luar Negeri Turki mengatakan bahwa meski konflik Rusia-Ukraina bisa berlangsung selama beberapa dekade, namun pihaknya yakin jika perang akan diselesaikan melalui perundingan

JAKARTA, JITUNEWS.COM – Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu, pada Rabu (23/11) mengatakan bahwa dirinya meyakini jika konflik Rusia-Ukraina akan berakhir di meja perundingan, bukan di medan perang. Oleh karena itu, Turki akan terus berupaya memediasi kedua negara yang terlibat konflik sejak akhir Februari 2022 tersebut.

“Dengan satu atau lain cara, perang ini akan berakhir di atas meja. Kami tidak berpikir ini akan berakhir dengan perolehan militer di lapangan. Meski begitu, ada risiko perang yang dapat berlangsung selama beberapa dekade,” kata Mevlut Cavusoglu dalam sebuah konferensi di Ankara, dikutip Anadolu Agency.

Menunjuk ke pertemuan tingkat tinggi yang diikuti oleh delegasi Turki, Ukraina, dan Rusia di Forum Diplomasi Antalya, Cavusoglu mengatakan: “Ada realitas baru dalam kondisi baru, dibandingkan dengan bulan Maret. Ini menjadi lebih kompleks. Tidak semudah itu, tapi kita tidak boleh kehilangan harapan.”

Indonesia Jadi Ketua ASEAN 2023, Dubes Rusia: Negara yang Sangat Berpengaruh

Cavusoglu menjelaskan bahwa dalam negosiasi yang digelar di Istanbul pada Maret 2022 kemarin, delegasi Rusia dan Ukraina sudah hampir menyepakati solusi damai. Hanya saja, ada intervensi dari pihak lain yang membuat Ukraina memutuskan untuk menghentikan diplomasi tersebut.

“Sebenarnya, ketika kami berkumpul bersama di Istanbul, pihak-pihak sudah sangat dekat dengan gencatan senjata. Tapi kemudian, tangan ajaib menyentuh dan kami melihat sisi-sisinya menjauh dari meja,” katanya.

Menekankan pentingnya sikap netral pemerintah Turki dalam perang Rusia-Ukraina, dia mengatakan Presiden Recep Tayyip Erdogan adalah satu-satunya pemimpin di NATO yang dapat bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

“Menjadi negara NATO bukan berarti kita tidak bisa bertemu dengan Rusia atau negara lain. Keseimbangan ini perlu dijaga dengan baik,” jelasnya.

Menurut Cavusoglu, pertukaran tahanan antara Rusia dan Ukraina merupakan hasil mediasi yang dilakukan oleh Presiden Erdogan. Ia juga mengatakan bahwa Turki juga memainkan peran dalam memfasilitasi pembicaraan tentang masalah pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporozhye.

Anggota Kongres AS Peringatkan Soal Bahaya Teknologi Artificial Intelligence, Lebih Buruk daripada Nuklir


Artikel ini bersumber dari www.jitunews.com.