Punya Harta Rp3,8 M, Keluarga Kalideres Ini Meninggal karena Kelaparan

Punya Harta Rp3,8 M, Keluarga Kalideres Ini Meninggal karena Kelaparan

2 menit

Sudah sepekan lebih berlalu, kasus kematian satu keluarga di Kalideres, Jakarta masih saja belum terungkap kebenarannya. Banyak spekulasi beredar yang menyatakan bahwa keluarga tersebut meninggal karena kelaparan. Padahal jika dilihat dari aset kekayaanya, mereka disebut-sebut punya harta sampai miliaran rupiah, lo.

Kematian satu keluarga di Perumahan Citra Garden, Kalideres, Jakarta Barat, sempat menggegerkan masyarakat Tanah Air.

Pasalnya, keluarga tersebut meninggal di kediamannya dengan tidak wajar.

Adapun keluarga itu beranggotakan 4 orang, antara lain Rudyanto Gunawan (71) sebagai suami, Reny Margarethan Gunawan (68) sebagai istri, Dian Febbyana (42) berstatus anak, serta Budyanto Gunawan (68) berstatus adik Rudyanto.

Punya Aset Fantastis

Melansir dari kompas.com, hasil otopsi sementara menunjukkan tidak ada sisa makanan pada lambung keempat anggota keluarga itu.

Dugaan kematian akibat kelaparan pun kian berembus saat ditemukan otot-otot korban mengecil, tanda tidak mengonsumsi makanan dan minuman dalam waktu lama.

Padahal, terungkap bahwa diduga keluarga korban ternyata memiliki aset senilai Rp3,8 miliar.

Melansir dari suara.com, tokoh pemuda Jakarta Barat, Umar Abdul Aziz juga berpendapat bahwa tak mungkin keluarga tersebut meninggal karena kelaparan dengan memiliki harta fantastis tersebut.

“Kalau di liat dari segi rumah yang tinggal di kawasan komplek tidak mungkin dia tidak makan,” kata Umar.

Lalu, kabarnya mereka pun dikabarkan memiliki satu mobil.

Ada Korban yang Tewas Sejak Mei 2022

sumber: news.detik.com

Melansir dari cnnindonesia.com, satu korban yang diduga bernama Reni Margaretha dikabarkan sudah meninggal dunia sejak Mei 2022 lalu.

Ini terungkap setelah polisi menemukan riwayat percakapan di salah satu handphone korban.

Dalam komunikasi itu, korban tewas lainnya atas nama Budyanto ternyata kerap berkomunikasi dengan seorang mediator jual beli rumah.

Namun, proses jual beli itu disebut polisi tak lazim karena ia langsung menyerahkan sertifikat asli rumah kepada mediator.

Kemudian, mediator itu bertemu dengan seorang pegawai koperasi simpan pinjam dan disepakati untuk menggadaikan rumah tersebut.

Kedatangan Anggota Koperasi Simpan Pinjam

Pada 13 Mei, mediator, pegawai koperasi dan beberapa orang lain datang ke rumah korban.

Lalu, mereka mencium bau busuk ketika pertama membuka gerbang rumah itu.

Lalu, anggota tersebut pun masuk ke dalam hunian dan mencari Margaretha yang dicantumkan namanya pada sertifikat rumah.

Setelahnya, mereka dibawa ke sebuah kamar lantaran Margaretha disebut sedang tidur.

Mereka juga diminta untuk tak menyalakan lampu kamar karena dibilang Margaretha sensitif terhadap cahaya.

Namun, tanpa sepengetahuan sang anak yakni Dian, pegawai koperasi ini menghidupkan lampu flash HP dan mendapati Margaretha tergeletak tak bernyawa.

Saksi Berteriak dan Ucapkan Takbir

Seorang saksi itu pun kabarnya langsung meneriakkan bacaan takbir setelah melihat kondisi nahas tersebut.

Budyanto, salah seorang korban yang masih hidup pada bulan Mei sempat meminta saksi untuk tak melapor ke pihak berwajib usai melihat jasad Margaretha.

Langsung saja saksi tersebut keluar rumah dan tak ingin lagi melanjutkan proses gadai pinjam uang.

Saat saksi keluar rumah, Budyanto langsung mengejarnya.

***

Semoga artikel ini dapat bermanfaat, ya.

Jangan lupa untuk pantau terus artikel menarik lainnya lewat Berita.99.co.

Kunjungi juga Google News untuk dapatkan update artikel dari Berita 99.co Indonesia.

Kalau kamu sedang mencari rumah, yuk lihat penawarannya di www.99.co.id dan Rumah123.com.

Cek pilihan terbaiknya, seperti Perumahan Harvest City.

Kunjungi dari sekarang dan dapatkan promo menarik di sana karena kami selalu #AdaBuatKamu!

Artikel ini bersumber dari berita.99.co.