Pesparani Sarana Umat Katolik dalam Membangun Bangsa

Pesparani Sarana Umat Katolik dalam Membangun Bangsa

JawaPos.com – Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas berharap Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik bisa menjadi sarana bagi umat Katolik untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa dan negara.

“Pesparani ini bisa menjadi sarana sebagai pengungkit penguat nilai-nilai keberagaman dan toleransi melalui pelibatan berbagai umat beragama dalam perhelatan ini,” kata Menag ketika membuka Pesparani Katolik Nasional II secara daring di Kupang, Jumat (28/10) malam.

Menag mengatakan pelaksanaan Pesparani Katolik Nasional II yang sempat tertunda selama dua tahun karena adanya pandemi Covid-19, tahun ini bisa terlaksana di Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dia mengatakan Pesparani Katolik Nasional II merupakan sarana pembinaan dan pengembangan masyarakat Katolik Indonesia serta untuk mendorong pengembangan seni budaya gereja dengan sentuhan lokal.

Ia berharap, melalui tema “Membangun Persaudaraan Sejati untuk Indonesia Maju”, Pesparani bisa menjadi sarana bagi umat Katolik untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa.

Melalui Pesparani, kata Menag, umat Katolik dapat menunjukkan sportivitas dan kreativitas dalam mengapresiasi seni budaya bangsa yang diinkultrasikan dalam tradisi, kebiasaan, dan budaya musik, serta nyanyian dalam lingkungan Gereja Katolik.

Ia optimistis Pesparani menjadi istimewa dan menguatkan upaya melestarikan keindonesian dalam kebersamaan dengan mereka berkeyakinan lain, serta mewujudkan tekad dan kerja bersama untuk menjaga dan merawat harkat dan martabat manusia.

“Melalui Pesparani marilah kita semua merayakan makna toleransi dan moderasi beragama untuk terus mewujudkan toleransi, kesetaraan dan kerja sama sebagai tiga dimensi yang membentuk kerukunan umat beragama,” katanya.

Menag mengatakan kerja sama, sinergi, dan kolaborasi para tokoh agama, tokoh masyarakat, dan lembaga keagamaan dari semua lembaga keagamaan, termasuk lembaga Pesparani, untuk terus menjaga dan melestarikan keragaman itu. Dia menambahkan harapan itu harus diwujudkan karena salah satu pilar penting tegaknya NKRI adalah agama.

Kementerian Agama juga memfasilitasi semua agama dalam pembinaan dan pengembangan aktivitas keagamaannya, antara lain Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) bagi umat Muslim, Pesparawi untuk umat Kristen, Utsawa Dharma Gita untuk umat Hindu, serta Muhaniti Loka Dhamma untuk umat Buddha.

“Kami bangga karena perhelatan Pesparani II menjadi media kolaborasi antarberbagai agama, tokoh agama, tokoh masyarakat sehingga menjadi perekat persatuan dan kesatuan bangsa di tengah terus bertingkahnya berbagai kelompok intoleran,” kata Yaqut Cholil Qoumas.

Ia mengatakan partisipasi kontingen Pesparani II yang berasal dari 34 provinsi dan berkumpul bersama di Kupang akan mendorong cara beragama masyarakat menjadi lebih toleran tanpa kekerasan, menghargai budaya, memiliki komitmen kebangsaan yang kuat dan memberikan energi positif. Hal itu, katanya, akan tercermin keteguhan umat Katolik dalam iman serta kecintaan pada bangsa dan negara.

Dia berharap, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur bisa memperoleh pertumbuhan ekonomi dari perhelatan Pesparani II dan merasakan dampak positif yang berkelanjutan. “Kami berharap ada keceriaan dalam berlomba dan kenangan yang indah pada Pesparani II menjadi semangat bagi seluruh kontingen dan pendukung untuk terus memajukan seni budaya dan budaya dalam beribadah,” katanya.

Ketua Umum Pesparani II di Kota Kupang, Haji Jamal Ahmad, mengatakan kegiatan Pesparani yang diikuti hampir 2.800 peserta dari 34 provinsi di Indonesia berlangsung 28-31 Oktober 2022. Dalam kegiatan Pesparani di Kota Kupang tidak saja melibatkan umat Katolik tetapi juga didukung umat lintas agama sebagai wujud suatu daerah yang menjunjung tinggi semangat toleransi beragama.

Sebagai seorang tokoh Muslim yang juga mantan Ketua NU NTT, Haji Jamal Ahmad menyatakan bersyukur dipercaya umat Katolik untuk menjadi ketua umum panitia dalam perhelatan berskala nasional ini.

Pembukaan Pesparani II dihadiri Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Monsinyur Ignatius Kardinal Suharyo, Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Bungtilu Laiskodat, Wakil Gubernur Josef Nae Soi, Kapolda NTT Irjen Pol Jony Asadoma, serta para petinggi TNI dan Polri dan Penjabat Wali Kota Kupang George Melkianus Hadjoh dan Wakil Bupati Kupang Jerry Manafe serta belasan ribu umat Katolik setempat.


Artikel ini bersumber dari www.jawapos.com.