Nanti Kita Cerita Tentang Guru

Nanti Kita Cerita Tentang Guru

Rabu, 23 November 2022 – 08:42 WIB

VIVA – Sejak program sertifikasi diluncurkan di tahun 2005, profesi guru melejit dan naik kelas dari kelas “Oemar Bakrie” menjadi kelas menengah. Guru menjadi profesi idaman. Meme-meme “ menantu idaman adalah guru” bertebaran di mana-mana.  Maklum saja besaran tunjangan tersebut tidak main-main, satu kali gaji pokok. Guru-guru jadi makmur, sekolah penuh sesak dengan mobil-mobil mengkilat yang baru keluar dari showroom. Tentu saja hal ini membanggakan. Profesi guru tidak lagi dipandang sebelah mata.

Saya teringat masa-masa kuliah. Ayah saya seorang guru, kelima anaknya kuliah sarjana. Beliau harus menggadaikan SK PNS-nya di bank sampai kami semua tamat kuliah. Dulu di kurun waktu 90-an sampai awal tahun 2000-an belum ada program sertifikasi dan beasiswa juga belum banyak.  Walhasil yang diandalkan hanya gaji per bulan yang tidak seberapa dan untungya kami berlima bisa kuliah sampai tingkat master, membayar perjuangan ayah saya yang jatuh bangun menjadikan kami sarjana. 

Saya sangat bersyukur mempunyai orang tua guru, meskipun tidak kaya harta namun kaya buku. Kami semua diajar di rumah selain di sekolah. Ditanamkan kecintaan membaca buku. Tidak heran sedari kecil saya menjadi pengunjung setia perpustakaan sekolah dan perpustakaan wilayah di kota kecilku. Saya tumbuh di bawah naungan buku-buku yang dikenalkan oleh ayah saya yang guru. Meskipun tinggal di kota kecil saya tahu tentang Mozart, Chairil Anwar, HB Jasin, Piere Curie dan Marie Curie, presiden-presiden Amerika, bahkan saya baca buku ”Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat” waktu saya duduk di bangku kelas tiga SMP. Sepupu saya yang berkuliah di Jawa yang membawakan saya waktu libur kuliah. Begitu besar pengaruh ayah saya yang guru menanamkan kecintaan membaca.

Saya paham bagaimana rasanya menjadi anak guru. Sehingga ketika saat ini guru hidup berkelimpahan materi adalah hal yang patut disyukuri. Bagaimanapun, guru adalah napas penggerak pendidikan. Di tangan guru lah hitam putih wajah pendidikan kita ditulis. Ada satu masa di mana pesona guru-guru di Indonesia mengundang decak kagum negara tetangga. Malaysia, yang saat ini pendidikannya sudah berkelas dunia tidak luput dengan pesona guru-guru Indonesia di tahun 70-an.

Ada ratusan guru Indonesia yang diekspor ke Malaysia. Itulah nostalgia terindah yang selalu dikenang Indonesia tentang mutu guru. Setiap bicara kemajuan pendidikan Malaysia maka kebanyakan akan segera menjawab, ”dulu kita kirim guru ke Malaysia”. Dulu, bagaimana sekarang? Mengapa dengan gaji yang dua kali lipat, pendidikan kita masih suram dan belum bersinar di dunia internasional? Bukankah dulu, ada tudingan pendidikan kita semrawut akibat gaji guru yang begitu kecil? Guru-guru sebelum zaman sertifikasi adalah guru-guru yang “Oemar Bakrie”. Banyak yang nyambi jadi ojek, pedagang dan lain-lain. Mengapa kemudian program sertifikasi yang sudah berjalan 15 tahun belum juga menunjukkan perbaikan kualitas pendidikan?

Tidak ada yang menggugat sertifikasi. Namun, apakah ada dari dana sertifikasi yang dianggarkan oleh guru secara pribadi untuk meningkatkan kompetensinya? Sistem pendidikan Indonesia selalu menjadi sorotan di dunia Internasional karena kualitasnya yang masih rendah kalau tidak bisa dikatakan buruk. Semua bermula pada tes PISA. Tes yang diselenggarakan oleh OECD setiap tiga tahun sekali ini, melihat kemampuan dasar siswa kelas menengah yang berumur 15 tahun di bidang matematika, sains dan membaca. Dari tahun 2000 sejak pertama kali tes itu diadakan sampai pada tahun 2022 rangking Indonesia tetap saja di sepuluh terbawah.

Setiap hasil tes keluar, selalu disertai dengan laporan dari OECD sebagai penyelenggara, bahwa untuk Indonesia, kualitas guru harus ditingkatkan beserta saran-saran lain. Bukan cuma Indonesia yang selalu mendapat saran untuk perbaikan pendidikan, bahkan Jerman di tahun 2000 dilanda shock karena siswa-siswa Jerman lebih rendah nilainya di banding rata-rata negara OECD. Perlu waktu 15 tahun untuk Jerman keluar dari masalah tersebut.

Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.

Artikel ini bersumber dari www.viva.co.id.