Ekspedisi JawaDwipa, Upaya Menyusuri Sejarah Bencana di Jatim

Ekspedisi JawaDwipa, Upaya Menyusuri Sejarah Bencana di Jatim

Selama 14 hari ke depan, para pemuda yang tergabung dalam Tim Ekspedisi JawaDwipa berkeliling ke 10 daerah di Jatim. Mereka mencari tetenger dan cerita mengenai bencana yang pernah terjadi.

ADA begitu banyak kearifan lokal tentang pengetahuan bencana alam di berbagai daerah di Jatim. Di Situbondo, terdapat peninggalan berupa batu umpak sebagai dasar rumah. Teknologi arsitektur lokal tersebut dianggap mampu dan lebih tahan terhadap guncangan gempa.

Di Banyuwangi, masyarakat setempat punya istilah khusus tentang tsunami. Mereka menyebutnya banyu lampeg. Istilah itu muncul ketika sejumlah wilayah di kabupaten tersebut dihantam bencana itu pada 1994.

Khazanah-khazanah lokal itulah yang bakal dikumpulkan oleh Tim Ekspedisi Jawadwipa. Mereka bakal berkeliling ke 10 kabupaten/kota untuk mengumpulkan catatan-catatan tentang sejarah bencana yang terjadi.

Perjalanan akan dimulai di ujung barat Jatim, Pacitan. Lalu, berurutan ke Blitar, Malang, Lumajang, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, Surabaya, Mojokerto, dan berakhir di Tuban.

Bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim dan kabupaten/kota, hasil temuan itu didiskusikan. ”Tujuannya, sharing mengenai apa yang bisa menjadi rujukan mitigasi bencana ke depan,” kata Ketua Tim Ekspedisi Jawadwipa Segmen Jatim Nugrah Aryatama kemarin.

Nanti hasil penelitian tersebut dijadikan buku, foto, dan sebuah film. Untuk mengingatkan kembali kepada masyarakat bagaimana para leluhur bisa beradaptasi menangani bencana.

Ada dua jenis bencana yang diteliti. Yakni, tsunami dan gempa. Sebelum riset ke lapangan, tim ekspedisi melakukan persiapan awal selama dua tahun. Menggandeng berbagai ahli dari bidang sejarah, geologi, dan berbagai perspektif ilmu lain guna mendukung temuan.s

Mengapa tim hanya memilih dua jenis bencana itu? Ketua Tim 14/11) Jawadwipa Trinirmalaningrum mengatakan, dua bencana itu dianggap memiliki daya rusak tinggi serta sulit diprediksi kapan terjadi. ”Berbeda dengan banjir, misalnya, yang terjadi hampir setiap tahun dan sudah menjadi siklus,” katanya.

Kepala Pelaksana BPBD Jatim Budi Santoso mendukung penuh ekspedisi itu. Menurut dia, hasil temuan tim akan berguna bagi masyarakat sebagai literasi bencana. ”Masyarakat yang tanggap dan sadar risiko akan mengurangi dampak ketika bencana terjadi,’’ paparnya.

Selama ini langkah antisipasi dan mitigasi bencana terus dijalankan oleh BPBD Jatim. Salah satunya, membentuk desa tangguh bencana. Dari total 2.742 desa rawan bencana, 1.000 desa sudah mampu dan siap menghadapi ancaman bencana.


Artikel ini bersumber dari www.jawapos.com.