Alasan Klub-Klub Liga 2 Ingin Punya Operator Sendiri

Alasan Klub-Klub Liga 2 Ingin Punya Operator Sendiri

JawaPos.com-Deltras FC ingin ada operator khusus di Liga 2. Usulan itu mendapat dukungan dari sesama klub divisi kedua. Persikab Kabupaten Bandung ingin Liga 2 bisa lebih mandiri.

Selama ini, Liga 2 berada di bawah naungan PT Liga Indonesia Baru (LIB). LIB juga jadi operator kompetisi di Liga 1. Hal itulah yang jadi masalah bagi klub strata kedua.

’’Klub Liga 2 seperti tidak punya jati diri. Kalau ada operator sendiri, jati diri tim Liga 2 ini pasti lebih jelas. Termasuk dari plan bisnisnya,’’ kata Eddy Moelyo, presiden Persikab, saat dihubungi Jawa Pos.

Dia mencontohkan saat Liga 1 mandek. ’’Otomatis Liga 2 juga pasti berhenti. Karena operator kompetisinya sama. Kalau (operatornya) beda, Liga 2 kan tidak harus ikut apa yang dijalani Liga 1. Bisa jalan sendiri,’’ beber Eddy.

Dia juga melihat finansial sebagai salah satu sumber masalah. Dana yang diterima tidak sebanding dengan pengeluaran.

Eddy juga mencontohkan soal broadcast. ’’Kan ada banyak stasiun televisi di Indonesia. Jangan ada monopoli satu broadcaster saja,’’ ujarnya.

Eddy berharap usulan itu bukan sekadar wacana. ’’Biarkan Liga 2 ini menaikkan gengsinya sendiri. Syukur-syukur kalau bisa berjalan lebih bagus dari Liga 1. Semua harus jelas, jangan sampai Liga 2 dianggap anak tiri,’’ tegasnya.

Karena itu, Eddy akan menyuarakan keinginan itu ke pihak federasi. ’’Nanti di kongres luar biasa kami akan coba sampaikan wacana ini. Apalagi, mayoritas klub Liga 2 juga setuju,’’ jelasnya.

Tim Liga 2 asal Jatim Putra Delta Sidoarjo (PDS) juga satu suara. Mereka tidak masalah kalau ada operator khusus di Liga 2. Tapi, itu dengan catatan khusus.

’’Harus ada yang menjamin bahwa klub Liga 2 mendapat subsidi lebih besar daripada yang diterima saat ini. Kalau ada yang menjamin seperti itu, kami setuju,’’ ucap Manajer PDS Yahdar Umar Balahmar kepada Jawa Pos.

Dia menganggap saat ini subsidi yang diterima sangat timpang. Klub Liga 1 mendapat dana Rp 5 miliar, sedangkan klub Liga 2 hanya Rp 800 juta.

Sejatinya, keinginan itu sudah disuarakan Gede Widiade sejak lama. Pengelola Persiba Balikpapan tersebut sudah bicara langsung dengan pihak federasi.

’’Tapi, pihak federasi tidak pernah mau membahas soal ini secara pelan-pelan. Kenapa? Karena mereka takut, kalau operator kompetisi dipisah, nanti bakal ditinggal oleh broadcaster,’’ kata Gede kepada Jawa Pos.

Padahal, ketakutan itu dianggap tidak masuk akal. Gede menganggap pangsa pasar Liga 1 dan Liga 2 jauh berbeda. ’’Ibarat taksi, Liga 1 ini seperti mobil Mercy. Sementara Liga 2 ini adalah Vios. Segmennya berbeda. Setiap segmen pasti ada penumpangnya,’’ beber Gede.

Karena itu, jika operator dipisah, Liga 2 bisa disiarkan di channel televisi yang berbeda. ’’Dengan begitu, tim Liga 2 bisa mendapat jam tayang prime time. Otomatis itu juga akan menambah pendapatan klub,’’ tambahnya.

Hal itu juga bakal menguntungkan suporter. Sebab, mereka bisa melihat tim kesayangan di jam prime time. ’’Selama ini Liga 2 seperti anak tiri. Selalu dapat jam tayang yang tidak ideal,’’ bebernya.

Dia berharap pihak federasi mau diajak bicara dengan klub Liga 2 soal ini. ’’Sampai kapan mereka (PSSI) terbelenggu karena takut ditinggal broadcaster? Sekarang malah seperti pihak broadcaster yang mendikte kompetisi,’’ ucap Gede.


Artikel ini bersumber dari www.jawapos.com.